ALISI ABU

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA SEMOGA SEHAT DAN SUKSES SELALU

Minggu, 02 Juli 2023

Pelaksanaan Idul Adha Terdapat Perbedaan Hari Dalam Pelaksanaannya.Bagaimana Menyikapinya?

 

Suasana Idul Adha 1444 H/2023 M
Bismillah.

Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.Alahamdulillah kembali kita bersyukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena hingga saat ini kita semua masih dalam keadaan sehat wal afiat selalu.
Pada kesempatan kali ini,blogspot alisi abu,kembali hadir menyapa Anda dimanapun kalian berada. Semoga sehat dan sukses selalu. Adapun tema pembahasan yang diangkat pada kesempatan ini adalah .....Pelaksanaan Idul Adha Terdapat Perbedaan Hari Dalam Pelaksanaannya.Bagaimana menyikapinya?
Untuk mengetahuinya,yuk ...silakan simak sampai akhir pada pembahasan berikut ini !


Pelaksanaan Idul Adha Terdapat Perbedaan Hari Dalam Pelaksanaanya. Bagaimana menyikapinya ?

Idul  Adha (bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya dalam agama Islam. Hal ini memperingati peristiwa Kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim Alaihis Salam bersedia mengorbankan putranya Isma'il Alaihis Salam sebagai wujud kepatuhan/ketaatan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebelum Ibrahim Alaihis Salam  mengorbankan putranya, Allah menggantikan Ismail Alaihis Salam dengan domba. Untuk memperingati kejadian ini, hewan ternak disembelih sebagai kurban setiap tahun.
Umat Islam di seluruh dunia selalu rindu dengan tanah suci. Di sanalah terkumpul jutaan doa kebaikan sebagai bekal untuk menghadapi akhirat. Keutamaan ibadah haji pun begitu spesial, 
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammadan Rasulullah, menegakkan salat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibadah haji merupakan kewajiban umat muslim apabila ia mampu dari segi fisik dan biaya. Ibadah haji  wajib bagi orang yang mampu karena perjalanan ke Tanah Suci membutuhkan banyak persiapan yang memerlukan biaya banyak serta membutuhkan kesiapan fisik serta kesiapan batin bagi yang akan menjalaninya.

Ibadah haji merupakan syariat yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Ibadah Haji ialah rukun Islam yang difardhukan kepada setiap muslim yang memiliki kemampuan untuk menunaikannya baik fisik,phsikis maupun materi.
Pada tanggal 10 Dzulhijjah kita merayakan Hari Raya Idul Adha yang biasa kita kenal dengan Hari Raya Qurban. Hari Raya Idul Adha ini hampir sama dengan Hari Raya Idul Fitri, pada pagi hari melakukan sholat ied di lapangan atau masjid. Namun ada suasana yang berbeda. Jika Idul Fitri, setelah sholat ied, kita berkeliling kerumah kerabat atau saudara.  Sedangkan pada Idul Qurban, setelah sholat ied, kita menyembelih hewan qurban yang dibagikan kepada yang ada di sekitar tempat tinggal maupun sanak famili dan haindaitaulan serta kaum kerabat.

Pengertian dan Dalil Haji
Secara bahasa, haji berasal dari kata al-Hajj yang artinya "menyengaja sesuatu". Sedangkan, menurut syariat Haji berarti menyengaja mengunjungi Baitullah di Mekah untuk melaksanakan rangkaian ibadah yang telah diatur ketentuan dan tata caranya dalam syariat Islam.
Hukum melaksanakan ibadah haji adalah wajib bagi orang Islam yang mampu. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 97 yang menjelaskan bahwa haji hukumnya wajib untuk seseorang yang mampu dan dilaksanakan sekali dalam seumur hidupnya.

فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: "Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Ali Imran: 97)
Hari raya Idul Adha identik dengan menyembelih hewan kurban bagi umat Islam yang mampu menunaikannya. Inilah mengapa Idul Adha disebut Hari Raya Kurban. Hewan yang disembelih untuk ibadah kurban pun beragam, mulai dari sapi, kambing, domba, kerbau, maupun unta. Bukan hanya Hari Raya Kurban, istilah Idul Adha juga kerap kali disebut sebagai Lebaran Haji.

Penyebutan Lebaran Haji untuk hari raya Idul Adha tak lepas dari pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci setiap Zulhijah.Pada 9 Zulhijah, umat Islam yang menunaikan ibadah haji tengah melaksanakan puncak ibadah, yakni wukuf di Padang Arafah. Wukuf adalah ritual ibadah haji yang mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan aktivitas sejenak. Kegiatan ini bertujuan agar jemaah dapat merenungkan diri, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim setelah menerima perintah Allah untuk mengorbankan Nabi Ismail. Sementara itu, bertepatan dengan wukuf di Arafah atau hari Arafah, bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, disunahkan untuk menjalankan puasa Arafah. Adapun ganjarannya, sebagaimana terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, adalah menghapus dosa selama dua tahun. "Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun akan datang."
Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Zulhijah.Pada hari Idul  Adha, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Id bersama-sama di tanah lapang atau di masjid. Setelah salat, penyembelihan hewan kurban dilaksanakan. Sepertiga daging hewan dikonsumsi oleh keluarga yang berkurban, sementara sisanya disedekahkan atau dibagikan kepada orang lain. Terkadang Idul Adha disebut pula sebagai Idul Kurban atau Lebaran Haji.

Namun pada tahun 2023 Masehi ini atau Idul Adha 1444 Hijiriah tahun ini, terdapat perbedaan hari dalam pelaksanaannya.Ada sebagian Muslimin Indonesia melaksanakannya hari Rabu tanggal 28 Juni 2023 berdasarkan hasil Hisab mereka (bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha di kota Suci Mekkah dan Madinah), dan ada pula yang melaksanakannya pada hari Kamis tanggal 29 Juni 2023 berdasarkan Rukyatul Hilal Pemerintah Republik Indonesiai. 

Nah,kalau terdapat perbedaan seperti ini,bagaimana menyikapinya ?
Untuk menyikapinya, sebaiknya kita coba perhatikan dalil berikut ini !
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
 
يَسْئَلُونَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
 
Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah :”Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaktian itu ialah kebaktian orang yang bertaqwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung. [al-Baqarah/2 :189]

Kaum muslimin diperintahkan Allah untuk mengikuti dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh syari’atnya. Demikian pula yang berkaitan dengan penentuan ibadah besar seperti puasa Ramadhan, Idul Fithri dan Haji. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas mengajarkan cara penentuannya dengan rukyat hilal (melihat hilal) dengan mata dan bila terhalang mendung atau yang sejenisnya maka dengan cara menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari (untuk Ramadhan atau Ramadhan 30 hari untuk Syawal). Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda mengenai perintah berpuasa jika melihat hilal:
إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
Artinya: Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal bulan baru), maka berbukalah. Tetapi jika mendung (tertutup awan) maka genapkanlah (menjadi 30 hari). (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah contoh dan ajaran Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam permasalahan ini, sehingga hukum berpuasa Ramadhan dan berbuka dari bulan Ramadhan bergantung kepada rukyatul hilal,begitu pula pelaksanaan Idul Adha penetapannya berdasarkan Rukyatul Hilall.Dan yang menetapkannya adalah Penguasa atau Pemerintahan kaum Muslimin berdasarkan Hilal awal terbitnya bulan.

Mengapa harus Penguasa atau Pemerintah Kaum Muslimin yang menetapkannya ?
Ta’at kepada pemimpin adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ
“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
Sebagai seorang Muslim yang berakal yang tidak mendahulukan hawa nafsunya dalam bertindak dan berbuat dalam menyikapi suatu keadaan,cobalah sejenak kita renungkan kisah emas berikut ini :

Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anha ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak?
Ali Radhiallahu anhu,menjawab,
“Karena pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi rakyatnya adalah orang-orang seperti aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah orang-orang seperti kalian (orang yang selalu mendahulukan hawa nafsunya dalam bertindak )”
 
Fakta sejarah sebenarnya dapat dijadikan sebagai pelajaran yang amat berharga bagi kaum yang berakal yang tidak mendahulukan hawa nafsunya dalam menyikapi suatu keadaan.
 
Dalam sejarah,fakta apakah yang dapat dijadikan pelajaran untuk menyikapi adanya perbedaan dalam pelaksanaan Idul Adha atau yang semisalnya?
Sampai abad ke-13 Hijiriah kaum Muslimin tentunya telah tersebar ke berbagai pelosok negeri dipermukaan bumi ini dengan pemerintahan sendiri-sendiri.Dari sekian banyaknya negeri kaum Muslimin tersebut bukan sesuatu yang tidak mungkin pastilah akan terjadi perbedaan dalam pelaksanaan puasa Ramadhan,Idul Fitri ataupun Idul Adha.Namun mereka tetap memegang teguh prinsip ketaatan kepada penguasa mereka,dalam hal menetapkan hilal pada bulan-bulan tertentu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang berkenaan dengan hilal awal bulan,seperti Ramadhan,Syawal dan Zulhijah.Mereka tidaklah saling bertanya ataupun mencari informasi apakah di negeri tertentu sudah 1 Ramadhan atau belum.
 
Pada abad ke-14 Hijiriah atau tahun 2023 Masehi,dengan kemajuan informasi dan teknologi saat ini,umat Muslim benar-benar diuji.Apakah mereka kaum Muslimin masih memegang teguh prinsip ketaatan kepada penguasa atau tidak dalam hal penentuan dan penetapan hilal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah tertentu.Ruang dan waktu tak ada lagi sekat diantara berbagai negeri untuk saling mengetahui keadaan di masing-masing negara,sehingga hal ini benar-benar menjadi suatu ujian bagi kaum Muslimin,apakah mereka tetap teguh dengan prinsip ketaatan kepada penguasanya atau tidak.

Bila ada diantara kaum Muslimin, tidak dengar dan taat, dikhawatirkan hadits Rasulullah, berikut ini akan menimpa dirinya.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 1851), dari Abdullah ibn Umar radhiallahu anha, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah ` bersabda, “Barangsiapa melepas tangannya (baiatnya) dalam mentaati pemimpin, ia akan bertemu dengan Allah di hari kiamat dengan tanpa memiliki hujjah, dan barangsiapa meninggal dalam keadaan tiada baiat di pundaknya maka matinya seperti mati jahiliyah.”Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dalam Ushul As Sunnah hal. 64, berkata, “Wajib mendengar dan menaati para pemimpin dan amirul mukminin yang baik maupun yang fajir (berbuat kerusakan).

Demikianlah pembahasan tentang bagaimana menyikapi apabila terdapat perbedaan hari dalam pelaksanaan Idul Adha. ataupun yang semisalnya.

Sekian dan terimakasih.Semoga sehat dan sukses selalu.Sampai jumpa pada postingan berikutnya.


Rabu, 07 Juni 2023

Luas dan Keliling Persegi panjang

 

Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. 


Alhamdulillah kembali kita bersyukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena atas izin_Nya kita semua masih dalam keadaan sehat wal afiat selalu.Semoga hari-hari kita selanjutnya tetap dalam rahmat_Nya. Pada kesempatan kali ini blogspot alisiabu,kembali hadir dengan menampilkan  tema pembahasan Luas Dan Keliling Persegi Panjang.

Pada pembahasan sebelumnya telah kita pelajari tentang Diagram Lingkaran dalam Bentuk Persen. Semoga pembahasan pada pelajaran yang lalu masih tersimpan dalam memori pikiran kalian.

Hai.... Adik-adik....bagaimana kabar kalian....?Semoga kalian berbahagia selalu.Selamat datang diblog saya ini. Semoga pembahasan kali ini dapat memberikan manfaat....ya. Untuk diketahui bahwa pada soal latihan pembahasan pada tema ini tidak disertai dengan soal latihan secara online.Untuk mengerjakan soal latihan,Adik-adik dapat mengerjakan pada buku catatan Matematika kalian.

Mari kita pelajari materi Luas Dan Keliling Persegi Panjang ini secara bersama-sama, dengan penuh semangat  ya !! Dan jangan lupa untuk memulai pelajaran dengan berdo'a.

Yuk....selamat belajar.

Luas dan Keliling Persegi panjang

 

Persegi panjang adalah bangun datar dua dimensi yang disusun dari empat buah sisi, yaitu dua buah sisi panjang dan dua buah sisi lebar.

Luas persegi panjang = panjang x lebar

Keliling persegi panjang = (2 x panjang) + (2 x lebar)

Persegi panjang memiliki 4 sisi, dengan 2 sisi yang saling berhadapan sama panjang. Kedua diagonalnya saling berpotongan sama panjang.
Sisi yang lebih panjang disebut panjang (p), sementara sisi lebih pendek disebut lebar (ℓ).

 

Sifat-sifat persegi panjang meliputi:

1.    Mempunyai dua simetri putar.

2.    Sisi yang berhadapan dan sejajar sama panjang.

3.    Diagonalnya sama panjang dan berpotongan di tengah-tengah.

4.    Memiliki empat buah sudut yang sama besar.

5.    Mempunyai dua sumbu simetri lipat.

 

Bentuk dari persegi panjang dapat kamu lihat pada gambar berikut, dengan  p  adalah panjang dan  l  adalah lebar.








Gambar persegi panjang


Rumus Persegi Panjang

Nama

Rumus

Luas (L)

L = p x l

Keliling (K)

K = 2 x ( p + l )  atau  2xp + 2xl


Keterangan :

L = luas

K = keliling

p = panjang

l  = lebar

 

Contoh Soal :

1. Sebuah persegi panjang memiliki panjang 12 cm dan lebar 4 cm. Hitunglah luas dari persegi panjang tersebut!

Jawab:

Luas persegi panjang = p × ℓ

Luas persegi panjang = 12 cm × 4 cm = 48 cm2

Jadi, luas persegi panjang adalah 48 cm2.

2.    Diketahui panjang suatu persegi panjang adalah 18 cm dan lebarnya 7 cm. Hitung keliling persegi panjang tersebut.

Jawab:

K = 2 (p + l)

K = 2 (18 + 7)

K = 2 × 25

K = 50 cm

 

Soal latihan :

1.  Siti membeli sebuah handphone baru berbentuk persegi panjang. Handphone tersebut memiliki panjang dan lebar, yaitu 11 cm dan 6 cm. Hitunglah luas dari handphone berbentuk persegi panjang tersebut!

2.  Suatu hari, La Irfan dan teman-temanya pergi ke lapangan futsal untuk bermain. Lapangan futsal itu berbentuk persegi panjang. Lapangan futsal memiliki panjang dan lebar, yaitu 25 m dan 15 m. Hitunglah keliling dari lapangan futsal tersebut!

3.  Diketahui sebuah persegi panjang memiliki panjang 28 cm dan lebar 17 cm. Berapakah keliling   yang dimiliki persegi panjang tersebut ?

4.  Panjang dan lebar sebuah lahan kosong di Kelurahan Watulea berbentuk persegi panjang adalah 80 meter dan 60 meter. Berapa luas lahan tersebut?

5. Asrandi membaca buku favorit di ruang belajar dengan masing-masing sisinya 15 cm dan 10 cm. Berapakah luas sampul buku yang Asrandi baca?


Semoga Bermanfaat.

Terimakasih.Sampai jumpa pada postingan selanjutnya.